Beginilah Kisah Peristiwa Peralihan Kiblat Ke Bait al-Haram (Makah)..Semua Orang Islam Wajib Baca…

PERISTIWA PERALIHAN KIBLAT

Pada bulan Sya’ban telah terjadi pemindahan kiblat (arah solat), hal itu merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah umat Islam. Bagaiamana arah kiblat yang awalnya Ka’bah dipindah ke masjid al-Aqsha dalam rangka mendidik dan hal ini merupakan proses penguatan iman orang-orang yang beriman serta mensucikan jiwa dari kotoran kejahiliyahan. Firman-Nya :
“Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang.” Dan keadaan orang-orang Arab sebelum Islam sangat mengagungkan dan menghormati Ka’bah.

Kerana misi Islam adalah membuat manusia beribadah kepada Allah, menyucikan hati dan melepaskannya dari ketergantungan terhadap yang selain Allah. Karenanya Allah memilihkan untuk mereka menghadap ke arah masjid al-Aqsha, untuk melepaskan jiwa mereka dan menyucikan hati mereka dengan hal-hal yang berkaitan dengan kejahiliyahan. Untuk menunjukkan siapa yang benar-benar jujur; rela dan pasrah mengikuti Rasul.

Pemindahan kiblat merupakan bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi dan pemenuhan terhadap keinginan Nabi, Allah berfirman:
“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu”

Semua keadaan ini tidak lain hanyalah perpindahan dari hal yang baik kepada hal yang lebih baik. Semua keadaan ini menunjukkan betapa berharganya kedudukan Rasulullah. Dan juga pemindahan kiblat dari masjid al-Aqsha ke masjid al-Haram untuk mengokohkan betapa pentingnya Rasululllah Karena hatinya terpaut dengan Makah, hatinya sangat rindu kepada Makah karena ia merupakan tempat yang paling Rasulullah cintai.

Kaumnya telah memaksa dan mengusirnya untuk behijrah ke Madinah al-Munawwaroh. Kota yang di muliakan karena kedatangan Nabi yang mulia.

Maka ketika Nabi keluar dari Makah, beliaupun berdiri di salah satu ketinggian di kota Makah sembari berkata:
“Sungguh, engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling Allah cintai, dan seandainya aku tidak diusir oleh kaumku niscaya aku tidak akan meninggalkanmu”
(HR. al-Thirmidzi)

Setelah Nabi menetap di Madinah, tetap saja hatinya terpaut dengan Makah. Allah kemudian meridhoi untuk memindahkan kiblat ke Bait al-Haram (Makah). Maka Nabi yang tinggal di Madinah menghadap ke arah Makah disetiap solat, untuk mengaitkan kedalaman iman dengan kecintaan kepada Negara.

Oleh: Maulana Syaikh Ali Jum’ah

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Sumber: ustaz iqbal zain

Leave a Reply