Inilah Sebabnya Kenapa Solat Anda Terbatal. Ustaz Zainal Abidin Telah Menerangkan Cara Solat Ikut Nabi S.A.W. Jangan Nanti Amal Yg Dilakukan Seperti Debu Yg Berterbangan Yakni Tiada Nilai Yg Ada Hanya Penat Dan Letih.

KETIKA BERAMAL TANPA ILMU

Oleh
Ustadz Armen Halim Naro

Sebagai seorang muslim tentu setiap kali mendirikan shalat lima waktu, atau shalat-shalat yang lainnya. Dia selalu meminta ditunjukan shirathul mustaqim. Yaitu jalan lurus yang telah lama dilalui oleh orang-orang yang telah diberi nikmat, dan dijauhkan dari jalan orang-orang maghdhubi `alaihim (orang-orang yang Engkau murkai), juga jalan orang-orang dhallin (orang-orang yang sesat). Dalam tafsiran, dua kelompok diatas disebutkan [1], bahwa orang-orang mahgdhubi ‘alaihim adalah Yahudi, sedangkan orang dhallin adalah Nashara.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,”Dan perbedaan antara dua jalan -yaitu agar dijauhi jalan keduanya-, karena jalan orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal. Adalah orang Yahudi kehilangan amal, sedangkan orang Nashrani kehilangan ilmu. Oleh karenanya, orang Yahudi memperoleh kemurkaan dan orang Nashrani memperoleh kesesatan. Barangsiapa mengetahui, kemudian tidak mengamalkannya, layak mendapat kemurkaan. Berbeda dengan orang yang tidak mengetahui. Orang-orang Nashrani, ketika mempunyai maksud tertentu, tetapi mereka tidak memperoleh jalannya, karena mereka tidak masuk sesuai dengan pintunya. Yaitu mengikuti kebenaran. Maka, jatuhlah mereka ke dalam kesesatan.”[2]

Banyak orang yang menyangka, bahwa banyak amal dan ibadah sudah mendapat jaminan untuk hari akhiratnya, sekurang-kurangnya merupakan tanda kebenaran dan bukti keshalihan. Begitulah sering kita dengar, dan itulah fenomena yang terjadi di kalangan kaum muslimin. Kalaulah kita mencoba untuk mengingat surat yang telah sering kita dengar ini, maka semua sangkaan dan dugaan kita selama ini, akan bisa kita ubah untuk hari besoknya. Dapat dibayangkan, seseorang yang mempunyai amalan sebanyak pepasiran di pantai, akan tetapi setelah ditimbang, dia bagaikan debu yang beterbangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. [Al Furqan:23].

Bukan saja amalannya tidak dianggap sebagai amalan yang diterima, bahkan dialah penyebab masuknya ke dalam api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka). [Al Ghasyiah:1- 4].

Berkata Ibnu Abbas,”Khusyu`, akan tetapi tidak bermanfaat amalannya,” diterangkan oleh Ibnu Katsir, yaitu dia telah beramal banyak dan berletih-letih, akan tetapi yang diperolehnya neraka yang apinya yang sangat panas [3]. Oleh sebab itu, Imam Bukhari membuat bab di dalam kitab Shahih Beliau, Bab: Berilmu sebelum berucap dan beramal.”

KEUTAMAAN ILMU DALAM AL QURAN
Ayat yang menerangkan tentang keutamaan ilmu dan celaan terhadap orang yang beramal tanpa ilmu sangatlah banyak [4]. Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, bagaikan orang yang melihat dengan si buta.

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? [Ar Ra`ad:19].

Bahkan tidak sekedar buta, akan tetapi juga tuli dan bisu .

Di berbagai tempat dalam Al Qur’an Allah l mencela orang-orang yang bodoh, yaitu:

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Al Araf:187].

وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak berakal. [Al Maidah:103].

Bahkan mereka disamakan dengan binatang, dan lebih dungu daripada binatang:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah, ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. [Al Anfal: 22].

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa orang-orang bodoh lebih buruk dari binatang dengan segala bentuk dan macamnya. Dimulai dari keledai, anjing, serangga, dan mereka lebih buruk dari binatang-bintang tersebut. Tidak ada yang lebih berbahaya terhadap agama para rasul dari mereka, bahkan merekalah musuh agama yang sebenarnya.

Lebih dari itu, bahwa syariat membolehkan sesuatu yang pada asalnya haram, karena yang satu berilmu dan yang satu lagi tidak berilmu. Yaitu dihalalkannya memakan daging hasil buruan anjing yang diajarkan berburu, berbeda dengan anjing biasa yang menangkap mangsanya.

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka menanyakan kepadamu,”Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah,”Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisabNya.” [Al Maidah:4] [5]

https://almanhaj.or.id/3043-ketika-beramal-tanpa-ilmu.html

Posted by Yusop Adan on Thursday, 30 August 2018

Antara tempat2 yg diharamkan bersolat adalah

di dalam gereja yg ada patung2 berhala
di tempat kotor
di atas kubur

Petikan :
Buku “Solat Rasullulah”
Mustaffa Suhaimi

Kenapa Solat Terbatal

Tertinggal salah satu daripada rukun sembahyang, seperti rukuk, sujud hanya sekali atau rukuk iktidal, sujud dan duduk di antara dua sujud tanpa tamakninah ataupun meninggalkan salah satu daripada syarat-syarat sah sembahyang seperti sembahyang dalam keadaan berhadas atau sembahyang di luar waktu.

Berkata-kata dengan sengaja dengan mengetahui haramnya dan menyedari dirinya dalam sembahyang, biarpun hanya mengeluarkan suara satu huruf, tetapi dapat difahami makna atau maksudnya seperti mengeluarkan huruf ‘s’ untuk menghalau sesuatu yang datang, sama ada manusia atau binatang atau mengeluarkan huruf-huruf yang tidak difahami makna atau maksudnya, tetapi lebih daripada dua huruf.

Sekiranya ini berlaku kerana lupa, tidak sengaja, terlancar lidah atau alpa tidak sedar dirinya sedang sembahyang atau jahil akan tegahannya, kerana baru memeluk Islam misalnya, maka perbuatan tersebut dimaafkan, tidak terbatal sembahyangnya, dengan syarat percakapan tersebut tidak melebihi enam perkataan. Sekiranya banyak, maka ia membatalkan sembahyang.

Dari Muawiyah ia berkata, Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesungguhnya sembahyang ini tidak sayugia dicampuri dengan sesuatu yang terdiri daripada kata-kata manusia, hanya yang patut padanya ialah tasbih, takbir dan bacaan al-Quran. – Riwayat Muslim.

Ketawa yang nyata hingga terdengar oleh orang di sebelahnya yang mengeluarkan suara dua huruf atau lebih, biarpun suara itu tidak memberi apa-apa makna atau kefahaman, ataupun satu huruf tetapi difahami maknanya. Jika ia berlaku dengan tidak disengajakan, tidak dapat menahannya maka ia tidak membatalkan.

Dari Jabir dari nabi, baginda telah bersabda: Ketawa itu membatalkan sembahyang, tetapi tidak membatalkan wuduk. – Riwayat oleh Ad-Daru Qutni dan al-Bayhagiy dengan sanad daif.

Menurut Imam Maliki dan Asy-Syafii, tidak batal sembahyang orang yang berkata-kata kerana tidak tahu hukum tegahannya atau kerana lupa dirinya sedang sembahyang dengan syarat bahawa kata-kata yang keluar itu sedikit, tidak lebih daripada enam perkataan.

Ulama Maliki berpendapat, berkata-kata untuk maslahat sembahyang seperti memberi peringatan imam yang melakukan kesilapan tidak membatalkan sembahyang dengan syarat perkataan yang dituturkan tidak banyak pada uruf dan imam tidak memahami atau menyedari maksud makmum kalau hanya diperingatkan dengan menyebut tasbih, iaitu ‘subhana llah’.

Batal sembahyang dengan berdehem, menangis, menghembuskan nafas dengan mulut atau hidung sehingga mengeluarkan dua huruf, biarpun tidak memberi apa-apa makna/maksud melainkan yang berpenyakit.

Sekiranya suara yang keluar itu sedikit atau tidak mengeluarkan huruf, maka perbuatan itu tidak membatalkan sembahyang. Begitu juga apa yang terjadi itu berlaku dengan tiba-tiba, seperti terbatuk, tersedak atau menahan ketawa, maka sembahyang tidak terbatal.

Kata-kata yang merupakan zikir atau doa yang dituju kepada orang yang bersin seperti menyebut kata yarhamuka Llah (Allah merahmati kamu) kepada orang yang bersin, membatalkan sembahyang.

Kata-kata seperti ini dalam keadaan sembahyang diperkira sebagai berbicara dengan orang lain. Sembahyang tidak boleh dicampur dengan sesuatu yang terdiri daripada kata-kata manusia.

Pergerakan atau perbuatan yang banyak, dilakukan pada anggota seperti kepala, tangan atau kaki seperti melakukan tiga langkah berturut-turut, yang dengan sengaja atau tidak adalah membatalkan sembahyang.

Posted by Yusop Adan on Thursday, 30 August 2018

Posted by Yusop Adan on Thursday, 30 August 2018

Tidak membatalkan sembahyang kerana pergerakan yang banyak pada anggota lain seperti menggerakkan anak-anak jari, lidah, kelopak mata, mulut, mengerutkan kening, menggerakkan telinga atau zakar. Ia diperlakukan perbuatan atau pergerakan yang sedikit biarpun berturut-turut.

Dimaafkan pergerakan yang banyak ketika dalam keadaan sembahyang syiddatu’l-khauf (sembahyang dalam keadaan takut) seperti dalam peperangan atau dalam keadaan bahaya seperti melihat kala jengking atau ular yang menyusur berhampirannya, juga sembahyang sunat ketika musafir, yang dilakukan di atas kenderaan seperti di atas unta, kuda yang memerlukan pergerakan tangan/kaki, kapal terbang atau bot di laut.

Hadis dari Ibn Masud menyatakan:

Dahulu kami pernah memberi salam kepada nabi s.a.w ketika beliau sedang sembahyang dan beliau menjawab. Ketika kami telah balik dari menemui An-Najasyi, kami memberi salam kepadanya tetapi baginda tidak menjawab. Kami bertanya: Ya Rasulullah, kami memberi salam kepada tuan ketika sembahyang satu ketika dulu dan tuan menjawabnya. Baginda menjawab: “Sesungguhnya dalam sembahyang itu cukup dengan kesibukan. – Riwayat Bukhari dan Muslim.

Hadis ini bermaksud bahawa sembahyang itu merangkumi pelbagai bacaan dan perbuatan juga konsentrasi terhadap Allah sebagai Pencipta. Cukup banyak bacaan dan perbuatan yang perlu dilakukan yang tidak boleh ditambah lagi dengan lain-lain urusan atau amalan. Walaupun demikian sekiranya pergerakan itu perlu, seperti untuk mengelakkan diri daripada bahaya binatang berbisa, biarpun lebih daripada tiga pergerakan, maka sembahyang yang dilakukan tidak batal

Dari Abu Hurairah beliau berkata, telah bersabda Rasulullah: Bunuh olehmu dua jenis binatang berbisa ketika sembahyang, iaitu ular dan kala jengking. – Riwayat Abu Daud dan Tirmizi dengan sanad sahih.

Terdapat perselisihan pendapat ulama mengenai tahap pergerakan yang dianggap sedikit atau banyak. Pendapat yang masyhur ialah mengembalikan persoalan atau kadar tersebut kepada kelaziman (uruf). Perbuatan yang biasanya dianggap sebagai sedikit atau ringan oleh umum ialah seperti perbuatan memberi isyarat ketika seseorang memberi salam, mengangkat songkok dan melepaskannya ke bawah, menggerakkan tangan kerana membetulkan pakaian yang mudah atau melepaskannya, mengambil benda kecil atau meletakkannya ke tempat lain, menahan orang yang hendak lalu di hadapan muka dengan mengangkat tangan, menggosok lendir yang ada di baju dan perbuatan seumpamanya.

Perbuatan ringan lain seperti menggerakkan jari kerana menghitung bacaan yang dibaca, menggaru gatal atau seumpamanya, ini tidak membatalkan sembahyang biarpun dilakukan berturut-turut tetapi makruh.

Walaupun demikian sekiranya menurut penelitian ramai, perbuatan itu dianggap banyak, seperti melangkah yang banyak lagi berturut-turut, maka ia membatalkan. Sekiranya tidak berturut-turut atau diselangi dengan berhenti sebentar di antaranya, kemudian baru disambung, maka ia tidak membatalkan sembahyang.

Berhadas besar atau berhadas kecil, biarpun orang yang sembahyang itu menunaikan sembahyang dalam keadaan ketiadaan air dan tanah untuk bertayamum, yang diistilahkan sebagai faqidu ‘t-tahurain di mana ia sembahyang kerana menghormati waktu.

Batal sembahyang yang sedang dilakukan atas sebab yang dijelaskan. Sekiranya hadas itu berlaku selepas salam pertama dan sebelum salam kedua, maka sembahyangnya tetap sah.

Begitu juga halnya dengan orang yang sentiasa berhadas, seperti orang dewasa (mengalami masalah tidak tus air kencing), batal sembahyangnya apabila ia berhadas seperti yang dijelaskan selain daripada hadis yang sedang ditanggung olehnya.

Terkena najis yang tidak dimaafkan pada badan dan pakaian. Sekiranya najis kering jatuh pada anggota badan atau pakaian lalu dikibaskan dengan cepat atau najis yang basah jatuh ke atas songkok lalu songkok tadi dicampakkan dengan cepat, tanpa menyentuhnya, memegang atau menanggungnya sebelum berlalu tempoh tamakninah, maka tidak terbatal sembahyang.

Terbuka aurat. Aurat sembahyang yang terbuka kerana ditiup angin dan ditutup segera sebelum berlalu masa kadar tamakninah tidak membatalkan sembahyang, selagi ia tidak berlaku berulang kali dan tidak berturut-turut. Sekiranya aurat itu dibuka dengan sengaja atau dibuka oleh binatang seperti monyet atau oleh kanak-kanak yang belum mumaiyiz, maka terbatallah sembahyang sekalipun ditutup dengan segera.

Mengubah niat, iaitu niat keluar daripada meneruskan sembahyang, teradud, iaitu tidak pasti sama ada hendak meneruskan sembahyang, menghentikannya atau memutuskan sembahyang kerana sesuatu sebab yang tidak dapat dipastikan akan berlaku, seperti seseorang itu berniat akan berhenti sembahyang sekiranya telefon yang ditunggu berdering atau orang yang sedang ditunggu datang ketika ia sedang sembahyang.

Batal sembahyang yang dilakukan dari mula ia teringat atau berniat untuk berbuat demikian, iaitu sejak berniat akan memberhentikan sembahyangnya, kerana ia telah menggantungkan niat untuk memberhentikan sembahyang dengan bunyi telefon atau dengan kedatangan seseorang. Niat wajib dikekalkan hingga akhir sembahyang, sehingga memberi salam yang pertama.

Sekiranya sembahyang yang sedang dilakukan dipalingkan atau ditukarkan kepada sembahyang lain dengan sengaja maka batallah sembahyang berkenaan, kecuali seseorang itu berniat menukar sembahyang fardu yang sedang dilakukan kepada sembahyang sunat mutlak dan memberi salam selepas melakukannya dua rakaat untuk membolehkannya sembahyang berjemaah bersama kumpulan yang baru datang.

Dalam keadaan seperti ini sembahyangnya tidak batal, bahkan sunat baginya berbuat demikian sekiranya masih ada masa. Sekiranya waktu yang tinggal sedikit dan ia tidak dapat melakukan sembahyang dengan sempurna, maka haram baginya berbuat demikian.

Makan atau minum biarpun sedikit seperti makan bijian yang terselit di celah gigi atau sebiji gula pasir yang kemudiannya cair lalu ditelan. Begitu juga menelan kahak atau air liur yang bercampur bahan makanan, melainkan kerana jahil akan haramnya atau terlupa.

Apabila seseorang itu telah mengangkat takbiratulihram, maka haramlah baginya melakukan sesuatu yang halal atau yang diharuskan sebelum membaca takbiratulihram iaitu ketika di luar sembahyang. Bermaksud bahawa perbuatan makan dan minum bukan setakat membatalkan sembahyang, tetapi juga haram hukumnya. Rasulullah bersabda:

Kunci sembahyang ialah suci dan tahrimnya ialah takbir, manakala tahlilnya ialah salam. – riwayat Asy-Syafii, Imam Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah dan At-Tirmizi.

Kunci utama, membolehkan seseorang itu sembahyang ialah dengan suci, iaitu suci daripada hadas besar dan hadas kecil juga berwuduk. Yang mengharamkan seseorang itu melakukan perbuatan atau tindak-tanduk yang diharuskan di luar sembahyang ialah dengan bermulanya sembahyang, iaitu dengan mengangkat takbiratulihram dan yang mengharuskan seseorang itu melakukan sesuatu yang diharamkan ketika sembahyang, ialah setelah memberi salam yang pertama, di mana sembahyang yang dilakukan telah sempurna.

Mendahului imam dengan sengaja seperti rukuk dan terus bangkit sebelum imam rukuk. Sekiranya sengaja, seseorang itu hendaklah kembali semula mengikut imam dan sembahyangnya tidak terbatal. Walaupun menurut ulama Hanafi perbuatan seperti ini membatalkan sembahyang, sama ada dilakukan dengan sengaja atau tidak, jika ia tidak mengulanginya bersama imam.

Berpaling dada dari arah kiblat ke kiri dan ke kanan, tidak kira sama ada ia kerana dirempuh atau ditolak orang, biarpun dengan segera seseorang itu membetulkan kedudukannya, kecuali sekiranya kerana jahil atau terlupa lalu dengan segera membetulkannya. Dalam keadaan seperti ini, sembahyang tidak terbatal.

Termasuk dalam perbuatan membatalkan sembahyang ialah memanjangkan rukun yang pendek dengan sengaja seperti memanjangkan iktidal dan duduk antara dua sujud dan makmum ketinggalan imam sehingga habis dua rukuk tanpa uzur.

– PEMBACA yang ada kemusykilan alamatkanlah soalan kepada:

Dr. Amran Kasimin

Lot 3673, Jalan Aman, Kg. Sungai Merab

Luar, 43000 Kajang, Selangor.

Leave a Reply